.

Selasa, 31 Januari 2012

Perkembangan Rasa Agama Pada Usia Anak dan Remaja Serta Keraguan Dalam Beragama


BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Rasa agama merupakan suatu potensi yang telah ada pada masing-masing individu. Rasa agama itu dipupuk dari masa kecil hingga mulai berfungsinya rasa itu pada akhir masa anak-anak menuju masa remaja awal. Perkembangan pada usia remaja mengalami banyak gejolak yang pada akhirnya menggoncangkan jiwa dan keyakinannya. Pertumbuhan secara fisik yang begitu menonjol ternyata diikuti oleh perkembangan pemikiran yang membuat dalam banyak hal remaja mengalami peningkatan cukup signifikan. Akan tetapi ada pula yang mengalami penurunan grafik yang terjadi pada diri mereka, salah satunya adalah rasa keber-agamaannya.
Penurunan rasa terhadap keyakinan yang terjadi inilah yang kemudian menjadikan adanya keragu-raguan terhadap ajaran agama. Tentunya juga karena di pengaruhi pula oleh pemikiran pada usia remaja yang meningkat secara signifikan dibandingkan pada saat masih anak-anak.
Pemikiran-pemikiran kritis dan ilmiah yang tumbuh pada otak remaja, membuat remaja berusaha untuk mencari kebebasan. Kebebasan berpikir, kebebasan memilih, kebebasan berkeyakinan, dan juga kebebasan-kebebasan yang lain. Inti dari pencarian kebebasan ini adalah untuk mencari jati diri dan usaha untuk menunjukkan siapakah dirinya di depan orang lain.
Yang amat disayangkan adalah metode pengajaran rasa keagamaan pada saat masih anak-anak (dikeluarga ataupun sekolah) yang berkembang saat ini masih terkesan mengabaikan pemikiran masa remaja ini, sehingga keyakinan terhadap rasa beragama pada usia remaja sering dikritisi oleh mereka. Yang pada akhirnya menimbulkan keraguan beragama pada diri mereka.
Banyak yang mengaku beragama, akan tetapi pangakuan tersebut tidak pernah dilaksanakan dengan menjalankan ajaran agama yang diakunya tersebut. Padahal jika dilperhatikan mereka yang tidak melaksanakan ajaran agama tersebut, pada masa anak-anaknya, mereka adalah anak yang rajin ke gereja ataupun masjid ataupun tempat-tempat ibadah yang lain. Ini disebabkan karena adanya keraguan beragama pada diri remaja.
B. Rumusan Masalah
1.      Apa saja teori-teori yang ada di dalam rasa agama dan religious doubt ?
2.      Bagaimana pengalaman agama pada diri seseorang tentang rasa agama dan religious doubt ?
3.      Upaya-upaya apa saja yang dilakukan untuk menghilangkan pikiran keragu-raguan tentang agama ?
C. Tujuan dan manfaat Penelitian
1.      Untuk lebih mengetahui dan memperdalam pemahaman kita mengenai rasa agama dan religious doubt.
2.      Agar bisa lebih belajar dari pengalaman seseorang tentang rasa agama dan religious doubt supaya bermanfaat bagi kehidupannya
3.      Untuk lebih mengetahui bagaimana cara seseorang itu menghilangkan rasa keragu-raguan  beragama di dalam kehidupannya.


 BAB II
Pembahasan

A.Teori
Rasa agama merupakan suatu dorongan dari dalam jiwa yang membentuk suatu rasa percaya kepada suatu Dzat Pencipta manusia, rasa tunduk, serta dorongan taat atas aturan-aturannya. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan seorang tokonh yang bernama W.H. Clarck(1958 hlm.22) dan rasa keagamaan itu dapat digambarkan sebagai “... the iner experience of the individual when he sense beyond, especially as evidencedby the effect of the effectof this experienceon his behavior when activilly attemps to harmonize his life with the Beyond[[1]]. Dari gambaran diatas dapat diambil intinya yaitu rasa keagamaan mengandun dorongan yaitu dorongan ketuhanan dan dorongan moral (taat aturan).
Sedangkan menurut Susilaningsih itu sendiri rasa agama itu adalah nilai-nilai yang telah mengkristal didalam diri manusia sebagai produk dari proses internalisasi nilai melalui proses mengalami semenjak usia dini secara kontinyu, konsisten, dan berkesinambungan.[[2]]
Rasa agama itu  tidak dapat terbentuk secara instan namun didalam proses pembentukannya harus melalui suatu pendidikan yang dilakukan secara kontinyu dan dalam waktu singkat. Disini peranan orang tua sangatlah vital dalam proses pembentukannya karena pada orang tualah penanaman nilai-nilai dasar keagamaan itu berlangsung.[3] Selain itu peranan sekolah juga tidak kalah penting karena sekolah itu tempat menuntut ilmu, maka sudah keharusan sekolah untuk mempunyai menejemen yang baik didalam rangka proses pendidikan keagamaan untuk menumbuhkan sikap keagamaan yang tangguh kepada para anak didiknya.
Rasa agama ini mulai bekerja didalam diri seseorang ketika orangitu berada dalam masa transisi dari anak menuju remaja. Karena pada masa transisi itu adalah masa yang sangat penting dimana pada masa ini anak cenderung untuk berfikiran secara rasional. Dari hal tersebut akan memunculkan suatu keraguan dalam beragama. Maka saat itu rasa agama mengambil posisi yang penting dalam mengatasi keraguan beragama tersebut.
 Keraguan beragama (religious doubt)  bersangkutan dengan semangat agama. Keraguan beragama biasanya menimbulkan rasa dosa. Keraguan beragama biasanya dialami oleh para remaja walaupun juga tidak menutup kemungkinan terjadi pula pada masa dewasa. Adapun pada masa anak-anak bisa dipastikan tidak ada keraguan beragama dikarenakan pada masa anak-anak, kemampuan mereka dalam mengolah pikiran masih belum baik. Para remaja yang mengalami keraguan beragama ingin tetap dalam kepercayaannya, akan tetapi dilain pihak timbul pertanyaan-pertanyaan disekitar agama yang tidak terjawab oleh mereka. Biasanya setelah gelombang keraguan itu reda, timbullah semangat agama yang berlebihan baik dalam beribadah,maupun dalam mempelajari bermacam-macam ilmu pengetahuan untuk memperkuat keyakinannya.[[4]]
Keraguan terhadap agama pada remaja tidaklah sama, berbeda antara satu dengan yang lainnya, sesuai dengan kepribadiannya masing-masing.[[5]] Ada yang mengalami keraguan ringan, yang dengan cepat dapat diatasi dan ada yang sangat berat sampai kepada berpindah agama. Dapat kita katakan, bahwa pada masa remaja akhir, keyakinan beragama lebih dikuasai pikiran, berbeda dengan pada permulaan ataupun remaja awal. Dimana pada masa remaja awal, perasaanlah yang lebih menguasai keyakinan mereka. Oleh karena pada masa remaja akhir pikiranlah yang lebih menguasai, maka sudah barang tentu banyak ajaran-ajaran agama yang kembali diteliti dan dikritik, terutama apabila pendidikan agama yang diterimanya sewaktu masih anak-anak lebih bersifat otoriter, paksaan orang tua, atau karena takut akan kehilangan kasih sayang orang tua [[6]].
Keraguan dalam rasa agama (religious doubt) itu tidak muncul dengan begitu saja namun muncul dari beberapa faktor. Dan  faktor yang menyebabkannya yaitu:
1.      Kemampuan kognisi remaja untuk berfikir secara abstrak dan maknawi.
2.      Religious storage
3.      Dogmatic teaching
4.      Religious teaching
5.      Perbedaan agama
6.      Mempertetangkan ilmu dan agama
7.      Imorrality
8.      Individual different
Sedangkan cara-cara yang perlu ditempuh untuk keluar dari keragu-raguan dalam agama itu adalah:
1.      Rasionalisasi konsep dan sikap di dalam beragama.
2.      Penolakan konsep-konsep agama yang telah tertanam.
3.      Penyesuaian konsep agama pada masa anak-anak dengan situasi dan kondisi yang baru.
Adapun dampak yang bisa ditimbulkan dari religious doubt itu sendiri dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.      Berpandangan skeptis terhadap bentuk-bentuk keagamaan.
2.      Meninggalkan tugas-tugas keagamaan.
3.      Konfrontasi pengetahuan dan agama
4.      Religious conversion( perubahan sikap keagamaan yang begitu mencolok).

B. Kasus
Kasus ini kami ambil dari pengalaan keagamaan saya sendiri dimana pengalaman keagamaan masa kecil bisa dibilang baik karena saya cukup beruntung terlahir dari keluarga yang pengetahuan agamanya bisa dikatakan baik. Semenjak kecil  orang tua sudah  menanamkan nilai-nilai dasar kagamaan pada diri ini. Selain itu orang tua juga membekali saya dengan pengetahuan keagamaan yang bisa digunakan dalam menjalani hidup ini. Beliau juga sangat sabar dalam mendidik saya dan tidak pernah mengeluh. Dan hal itu yang membuat saya sangat patuh dengan orang tua tentang apa yang di ajarkan oleh mereka walaupun pada saat itu banyak  juga ejekan-ejekan dari teman yang bilang “jadi anak jangan sok alim”, namun berkat rasa kepercayaan yang sangat besar kepada ajaran orang tua, saya tetap mematuhi perintahnya, dan jarang atau bahkan tidak pernah melanggarnya
Cara mendidik orang tua tidak hanya sampai di situ, dan demi menunjang pemahaman keagamaan yang lebih baik. Semenjak masih duduk dibangku taman kanak-kanak orangtua sudah memasukkan saya sudah dimasukkan TPA(taman pendidikan al-quran) yang bernama “baiturrahman”. Pada awal pertama masuk ke TPA saya merasakan rasa takut  yang luar biasa namun berkat dukungan dari ortu dan bimbingan uztad-uztadnya yang baik-baik, lambat namun pasti saya bisa berbaur dengan teman lain tanpa adanya rasa minder atau takut. Di TPA saya mendapat banyak sekali mendapat nilai-nilai agama dan tentu saja mendapatkan bimbingan dari para uztad tentang ilmu agama yang lain misalnya saja dalam membaca al-quran dengan baik dan benar.
Hal diatas tersebut yang membuat saya lebih bersemangat untuk menuntut ilmu yang lebih banyak lagi, dan secara tidak langsung membuat saya rajin untuk berangkat mengaji. Bahkan hampir setiap kali ada jadwal mengaji saya selalu berangkat dan mengikuti kegiatan di TPA dengan baik. sehingga tidak mengherankan juga jika saya selalu dikirim untuk mewakili tempat saya mengaji guna mengikuti lomba-lomba keagamaan di berbagai tempat. Dan tidak  jarang dari kegiatan mengikuti lomba itu saya sering mendapatkan juara.
        Tidak hanya berprestasi di kegiatan tingkat TPA saja. Bahkan pada saat disekolah formalpun, saya juga sering mendapat nilai yang baik dalam semua mata pelajaran terutama pelajaran Pendidikan Agama Islam. Berkat nilai-nilai yang saya peroleh, maka guru agamanyapun juga mengirim saya dalam berbagai perlombaan yang berhubungan dengan keagamaan. Dan disitu saya juga sering mendapatkan juara. Bahkan bisa di bilang saya menjadi anak yang paling disayang oleh para guru.
Setelah lulus SD dan tamat dari TPA saya mulai diajari untuk menjadi guru dan membimbing adik-adik dalam membaca al-quran. Dari situ banyak sekali pengalaman yang bisa diambil, bahwa ternyata di dalam menyampaikan ilmu itu lebih sulit daripada ketika kita memperolehnya. Dari dalam diri juga muncul perasaan tertantang untuk bisa membibing mereka agar bisa menjadi seperti diri saya atau bahkan lebih baik lagi. Dari itu semua di dalam hati nurani mulai mucul secerca keinginan atau cita-cita menjadi seorang guru yang baik. Dengan didasari rasa tulus dalam hati, saya semakin bersemangat untuk mendampingi adik-adik belajar mengaji. Hal itu aku lakukan hingga lulus SMP.
Tetapi semenjak lulus dari SMP dan masuk ke SMA atau ke dunia remaja. Di pikiranku sedikit demi sedikit muncul rasa tidak nyaman dengan apa saja yang sudah dilakukan semenjak kecil sampai sekarang ini. Perasaan itu selalu mencul di dalam benakku, bahkan saya sendiri pernah juga melakukan sesuatu hal yang melanggar perintah agama misalnya saja melakukan perbuatan yang sangat buruk dan pernah juga meninggalakan shalat.
Namun berkat penanaman agama yang telah begitu kuat dari orang tua dan bimbingan dari guru-guru TPA serta saya sendiri juga berusaha keras menghilangkan pikiran-pikiran yang seakan-akan sangat bertolak belakang dengan apa yang telah tertanam di dalam hati. Dan pada akhirnya usaha-usaha yang telah saya lakukan lambat laun mulai menunjukkan hasil yang nyata. Justru setelah terjadi konflik itu dapat membuat hati saya semakin yakin dengan kepercayaan yang selama ini ku yakini.

C. Analisis kasus
Secara teoritik rasa agama akan mulai bekerja jika seseorang telah memasuki masa remaja, namun jika hal itu tidak dibarengi dengan usaha orang tua untuk menanamka nilai-nilai keagamaan itu sejak dini. Maka hasil yang dapat diperoleh mustahil rasa agama itu akan tertnam secara kuat pada diri setiap individu. Namun apabila penanaman dan pendidikan tentang rasa agama dilakukan semenjak dini maka akan menghasilkan suatu rasa keagamaan yang begitu kuat. Dan hal itu yang saya alami sendiri denga mengamati kondisi lingkungan sekitar.
Didalam pengamatan yang menggunakan kacamata saya sendiri bahwa seseoranag itu akan memiliki rasa agama yangbegitu kuat jika sejak dini sudah dilakukan penanaman dan pendidikan rasa agama. hala yang berkebalikan bisa terjadi yaitu rasa keagamaan akan databg terlambatdan cendrung kurang sempurna apabila pada masa kecilnya kurang mendapat pemahaman tentang agama.
Hal-hal yang mendasari semangat saya pada masa penanaman rasa agama pada masa anak-anak yaitu perhatian dari orang tua yang sangatlah besar pada masa itu. Hal itu secara tidak langsung mendorong sya untuk lebih giat dalam mencari pengetahuan-pengetahuan tentang agama. dan hal itu bisa dilihat pada kasus diatas dimana saya lebih giat dalam mengaji dan melakukan segala perbuatan yang baik-baik yang sudah tertulis didalam aturan agama.
Dari kasus yang saya angkat diatas bahwa saya pernah mengalami masa-masa dimana didalam hati mulai muncul suatu perasaan ragu-ragu tentang keyakinan yang dianut. Dan bisa saya amati perasaan itu mulai muncul ketika pelajaran-pelajaran yang saya terima hanya sesuatu hal yang bersifat abstrak dan kurang bisa diterima dengan akal sehat. Itu juga diperparah dengan metode cara penyampaian yang dilakukan oleh orang tua dan para guru cenderung tidak berubah dan menganggap siapa yang dihadapi itu seolah-olah masih kecil. Hal itu sangat berolak belakang jika kita hubungkan dengan psikologi dimana saat-saat remaja orang cenderung untuk berfikir secara rasional bukan lagi berfikir secara abstrak.
Dari pengamatan yang saya alami sendiri pada saat perasaan ragu-ragu itu muncul peranan dan perahatian orang tua sudah sangat berkurang. Padahal pada saat itulah orang tua seharusnya sangat memperhatikan kondisi psikologis anaknya. Atau bahkan selalu mendampingi  dalam hal bimbingan moral keagamaannya. Karena pada saat remaja inilah masa paling rawan terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang.
Didalam bersosialisasi dengan lingkunganpun juga pernah merasa berdosa karena didalam bermain teman-teman sebaya banyak teman yang melakuakan suatu tindakan yang menurut hati saya perbuatan itu dilarang dalam agama. namun namanya saja anak kecil yang mempunyai sifat yang suka meniru maka saya juga melakukan hal tersebut walaupun perbuatan itu bartentangan dengan hati saya.
Seperti telah dijelaskan diatas banyak perbuatan menyimpang bahkan juga sampai menyentuh masalah moral. Itu semua merupakan akibat yang harus diterima dari sebuah pendidikan rasa agama yang kurang sesuai dengan perkembangan psikologis pada usia-usia remaja awal. Sehingga akan memunculkan suatu keragu-raguan dalam diri, yang pada akhirnya akan mendorong si remaja itu bertindak sesuka hatinya padahal apa yang diyakininya belum tentu benar secara aturan agama.
Semakin bertambahnya usia juga sedikit mempengaruhi pola pikir remaja menjadi lebih dewasa sehingga yang pada awalnya memiliki keragu-raguan sudah mulai bisa untuk bisa lebih menyesuaikan dengan keadaan yang baru. Dan mulai mencoba untuk berfikir rasional terhadap hal-hal yang sebelumnya dianggap tabu. Dan itu adalah hal yang dapat saya lakukan sehingga bisa keluar dari sifat keragu-raguan yang menghinggapi di dalam benakku.
 Dilihat dari sudut pandang Psikologi perkembangan masa remaja awal merupakan masa-masa pencarian jatidiri, dalam proses pencarian jati diri inipun juga masih perlu adanya bimbingan dan arahan dari orang tua sehingga seorang individu dapat menemukan hal-hal positive dalam dirinya bukan hal negative, seorang individu dapat bersikap buruk dan jelek itu merupakan akibat dari pada proses pencarian jati diri seorang anak dibiarkan bebas dan akhirnya menemukan orang-orang yang berperilaku buruk, dan kaitanya dengan berjalanya rasa agama ketika seorang anak dalam proses pencarian jatidiri mereka bertemu dengan orang-orang yang tidak baik dan tidak bermoral maka otomatis rasa agama ini akan lenyap walaupun sejak dari kecil sudah ditanamkan rasa agama oleh orang tua maupun sekolah.
Namun jika didalam masa proses pencarian jati diri itu seorang itu mendapat pendampingan dan pengarahan dari orang tua. Tentunya individu itu dapat menemukan banyak hal positif yang tentunya akan membawa banyak manfaat juga di dalam menjalani hidup. Dan tentunya rasa agama yang telah ditanamkan oleh orang tua dan lembaga pendidikan akan bisa berjalan beriringan dengan segala tingkah lakunya.
Dalam proses perkembangan atau bergeraknya rasa agama kondisi hubungan didalam keluarga juga sangat berpengaruh. Itu bisa dilihat dari penggalaman yang saya alami dimana pada saat keluarga dekat dan sangat memperhatikan kondisi psikologis keagamaan kita. Maka seolah-olah itu bisa menjadi suatu penyemangat dalam diri kita untuk menjalankan apa yang telah diperintahkan di dalam agama. Namun ketika kondisi hubungan didalam keluarga ada jarak antara orang tua dan anak, hal ini bisa saya rasakan dimana ketika mulai masuk usia remaja awal.diamana pada saat itu dalam pikiran saya berkecamuk dan muncul suatu keragu-raguan dalam pandangan tentang beragama. Pada saat itu kondisi seperti hubungan dengan orang tua kuang mendalam lagi. Sehinngga tidak mengherankan juga pada masa itu pernah mengalami sendiri banyak penyimpangan agama yang saya lakukan.



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
            Dari kasus ini penulis mencoba untuk membuat suatu kesimpulan, dimana didalam proses penanaman rasa agama itu dipengaruhi oleh beberapa faktor selain faktor proses internalisasi didalam diri seseorang namun juga dipengaruhi faktor lain misalnya saja faktor dari keluarga, lembaga pendidikan, dan kondisi lingkungan sosial masyarakatnya. Didalam keluarga disini merupakan letak yang begitu penting karena pada masa ini adalah untuk pertama kalinya seseorang mendapat penanaman dasar-dasar nilai keagamaan. Bahkan tergantunhorang tua juga anak itu bisa menjadi seorang muslim ataupun jadi orang kafir.
            Selain keluarga, sekolah juga memiliki tanggung jawab yang besar terhadap perkembangan perilaku keagamaannya. Selain itu kondisi lingkungan sekitar juga akan sangat berpengaruh di dalam proses perkebambangan rasa agama dalam dirinya. Misalnya saja kondisi teman sepermainan, jika didalam kondisi yang baik maka akan lebih memudahkan didalam perkembangan nilai agama. namun sebaliknya jika kondisi lingkungan kurang baik itu tentu sauja juga akan sedikit menghambat didalam proses internalisasi nilai-nilai keagamaan.
            Remaja merupakan masa yang sangat rentan terhadap kegoncangan hatinya dan sedikit banyaknya akan mempengaruhi terhadap pandangannya mengenai agama yang selama ini diyakininya. Puncaknya jika didalam kondisi keragu-raguan ini tidak bisa menemukan jawaban dari apa yang membuat ragu-ragu. Maka remaja akan cenderung untuk melakukan hal-hal baru dan memungkinkan remaja untuk bertindak menyimpang. Dan jika sudah dalam kondisi seperti ini peran keluarga sangat diperlukan untuk mengembalikan pikiran-pikiran ke arah yang benar selain motivasi dari individunya sendiri.
B. Kritik Dan Saran
            Didalam peulisan makalah penelitian ini tentunya masih banyak sekali kesalahan maupun kekurangannya. Maka dari itu di dalam kritik dan saran ini penulis mengharapkan masukan yang membangun dari pembaca sekalian. Agar kelak pada penulisan makalah yang selanjutnya bisa memperbaiki kekurangan dan bisa menghasilkan suatu akrya yang lebih baik.



Daftar pustaka

Darajat,Zakiah. 1970.Ilmu Jiwa Agama. Jakarta.Bulan Bintang.
Jalaludin, H. 2002. Psikologi Agama. Jakarta.Raja Grafindo Persada.
Susilaningsih.1996. Makalah Dinamika Perkembangan Rasa Keagamaan Pada Usia   Remaja.
Susilaningsih.1994. Perkembangan Religiositas Pada Usia Anak.
Thoules, Robert H.1992.Pengantar Psikologi Agama.Jakarta.Rajawali


[1] Susilaningsih,makalah Dinamika Perkembangan Rasa keagamaan Pada Usia Remaja, hlm. 1

[2] Susilaningsih. Handout pembelajaran psikologi agama pertemuan ke-10
[3] Susilaningsih.Makalah perkembangan religiusitas pada anak, hlm.8
[4] Zakiah Darajat. Ilmu Djiwa Agama. 1972. Djakarta: Bulan Bintang.halm. 116
[5] Ibid. Hlm. 115
[6] Ibid. Hlm. 115

3 komentar:

  1. Harrah's Resort Southern California - Mapyro
    Harrah's Resort 광명 출장마사지 Southern California · Main Location: Valley Center. Map 춘천 출장안마 icon. Location: 경기도 출장마사지 Valley Center, California. The casino 이천 출장안마 is owned and operated by 제주도 출장안마

    BalasHapus
  2. Making Money - Work/Tennis: The Ultimate Guide
    The way you titanium earrings would expect from betting on the tennis matches septcasino of tennis is to bet on the player you like w88 most. But งานออนไลน์ you also need a 해축 보는 곳 different

    BalasHapus