BAB I
Pendahuluan
A. Latar
Belakang
Rasa agama merupakan suatu potensi yang telah ada pada masing-masing
individu. Rasa agama itu dipupuk dari masa kecil hingga mulai berfungsinya rasa
itu pada akhir masa anak-anak menuju masa remaja awal. Perkembangan pada usia remaja mengalami banyak gejolak yang pada
akhirnya menggoncangkan jiwa dan keyakinannya. Pertumbuhan secara fisik yang
begitu menonjol ternyata diikuti oleh perkembangan pemikiran yang membuat dalam
banyak hal remaja mengalami peningkatan cukup signifikan. Akan tetapi ada pula
yang mengalami penurunan grafik yang terjadi pada diri mereka, salah satunya
adalah rasa keber-agamaannya.
Penurunan rasa
terhadap keyakinan yang terjadi inilah yang kemudian menjadikan adanya
keragu-raguan terhadap ajaran agama. Tentunya juga karena di pengaruhi pula
oleh pemikiran pada usia remaja yang meningkat secara signifikan dibandingkan
pada saat masih anak-anak.
Pemikiran-pemikiran
kritis dan ilmiah yang tumbuh pada otak remaja, membuat remaja berusaha untuk
mencari kebebasan. Kebebasan berpikir, kebebasan memilih, kebebasan
berkeyakinan, dan juga kebebasan-kebebasan yang lain. Inti dari pencarian
kebebasan ini adalah untuk mencari jati diri dan usaha untuk menunjukkan
siapakah dirinya di depan orang lain.
Yang amat disayangkan adalah metode pengajaran rasa keagamaan pada
saat masih anak-anak (dikeluarga ataupun sekolah) yang berkembang saat ini
masih terkesan mengabaikan pemikiran masa remaja ini, sehingga keyakinan
terhadap rasa beragama pada usia remaja sering dikritisi oleh mereka. Yang pada
akhirnya menimbulkan keraguan beragama pada diri mereka.
Banyak yang mengaku
beragama, akan tetapi pangakuan tersebut tidak pernah dilaksanakan dengan
menjalankan ajaran agama yang diakunya tersebut. Padahal jika dilperhatikan
mereka yang tidak melaksanakan ajaran agama tersebut, pada masa anak-anaknya,
mereka adalah anak yang rajin ke gereja ataupun masjid ataupun tempat-tempat
ibadah yang lain. Ini disebabkan karena adanya keraguan beragama pada diri
remaja.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja teori-teori yang ada di dalam rasa
agama dan religious doubt ?
2. Bagaimana pengalaman agama pada diri
seseorang tentang rasa agama dan religious doubt ?
3. Upaya-upaya apa saja yang dilakukan untuk
menghilangkan pikiran keragu-raguan tentang agama ?
C. Tujuan dan manfaat Penelitian
1. Untuk lebih mengetahui dan memperdalam
pemahaman kita mengenai rasa agama dan religious doubt.
2. Agar bisa lebih belajar dari pengalaman
seseorang tentang rasa agama dan religious doubt supaya bermanfaat bagi
kehidupannya
3. Untuk lebih mengetahui bagaimana cara
seseorang itu menghilangkan rasa keragu-raguan
beragama di dalam kehidupannya.
BAB II
Pembahasan
A.Teori
Rasa agama
merupakan suatu dorongan dari dalam jiwa yang membentuk suatu rasa percaya
kepada suatu Dzat Pencipta manusia, rasa tunduk, serta dorongan taat atas
aturan-aturannya. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan seorang tokonh yang
bernama W.H. Clarck(1958 hlm.22) dan rasa keagamaan itu dapat digambarkan
sebagai “... the iner experience of the individual when he sense beyond,
especially as evidencedby the effect of the effectof this experienceon his
behavior when activilly attemps to harmonize his life with the Beyond”[[1]]. Dari gambaran
diatas dapat diambil intinya yaitu rasa keagamaan mengandun dorongan yaitu
dorongan ketuhanan dan dorongan moral (taat aturan).
Sedangkan
menurut Susilaningsih itu sendiri rasa agama itu adalah nilai-nilai yang telah
mengkristal didalam diri manusia sebagai produk dari proses internalisasi nilai
melalui proses mengalami semenjak usia dini secara kontinyu, konsisten, dan
berkesinambungan.[[2]]
Rasa agama
itu tidak dapat terbentuk secara instan
namun didalam proses pembentukannya harus melalui suatu pendidikan yang
dilakukan secara kontinyu dan dalam waktu singkat. Disini peranan orang tua
sangatlah vital dalam proses pembentukannya karena pada orang tualah penanaman
nilai-nilai dasar keagamaan itu berlangsung.[3]
Selain itu peranan sekolah juga tidak kalah penting karena sekolah itu tempat
menuntut ilmu, maka sudah keharusan sekolah untuk mempunyai menejemen yang baik
didalam rangka proses pendidikan keagamaan untuk menumbuhkan sikap keagamaan
yang tangguh kepada para anak didiknya.
Rasa agama ini
mulai bekerja didalam diri seseorang ketika orangitu berada dalam masa transisi
dari anak menuju remaja. Karena pada masa transisi itu adalah masa yang sangat
penting dimana pada masa ini anak cenderung untuk berfikiran secara rasional.
Dari hal tersebut akan memunculkan suatu keraguan dalam beragama. Maka saat itu
rasa agama mengambil posisi yang penting dalam mengatasi keraguan beragama
tersebut.
Keraguan beragama (religious doubt) bersangkutan dengan
semangat agama. Keraguan beragama biasanya menimbulkan rasa dosa. Keraguan
beragama biasanya dialami oleh para remaja walaupun juga tidak menutup
kemungkinan terjadi pula pada masa dewasa. Adapun pada masa anak-anak bisa
dipastikan tidak ada keraguan beragama dikarenakan pada masa anak-anak,
kemampuan mereka dalam mengolah pikiran masih belum baik. Para remaja yang mengalami
keraguan beragama ingin tetap dalam kepercayaannya, akan tetapi dilain pihak
timbul pertanyaan-pertanyaan disekitar agama yang tidak terjawab oleh mereka.
Biasanya setelah gelombang keraguan itu reda, timbullah semangat agama yang
berlebihan baik dalam beribadah,maupun dalam mempelajari bermacam-macam ilmu
pengetahuan untuk memperkuat keyakinannya.[[4]]
Keraguan terhadap agama pada remaja tidaklah
sama, berbeda antara satu dengan yang lainnya, sesuai dengan kepribadiannya
masing-masing.[[5]] Ada yang mengalami
keraguan ringan, yang dengan cepat dapat diatasi dan ada yang sangat berat
sampai kepada berpindah
agama. Dapat kita katakan, bahwa pada masa remaja akhir, keyakinan
beragama lebih dikuasai pikiran, berbeda dengan pada permulaan ataupun remaja
awal. Dimana pada masa remaja awal, perasaanlah yang lebih menguasai keyakinan
mereka. Oleh karena pada masa remaja akhir pikiranlah yang lebih menguasai, maka sudah barang
tentu banyak ajaran-ajaran agama yang kembali diteliti dan dikritik, terutama
apabila pendidikan agama yang diterimanya sewaktu masih anak-anak lebih
bersifat otoriter, paksaan orang tua, atau karena takut akan kehilangan kasih
sayang orang tua [[6]].
Keraguan dalam
rasa agama (religious doubt) itu tidak muncul dengan begitu saja namun muncul
dari beberapa faktor. Dan faktor yang
menyebabkannya yaitu:
1. Kemampuan kognisi remaja untuk berfikir
secara abstrak dan maknawi.
2. Religious storage
3. Dogmatic teaching
4. Religious teaching
5. Perbedaan agama
6. Mempertetangkan ilmu dan agama
7. Imorrality
8. Individual different
Sedangkan
cara-cara yang perlu ditempuh untuk keluar dari keragu-raguan dalam agama itu
adalah:
1. Rasionalisasi konsep dan sikap di dalam
beragama.
2. Penolakan konsep-konsep agama yang telah
tertanam.
3. Penyesuaian konsep agama pada masa anak-anak
dengan situasi dan kondisi yang baru.
Adapun dampak
yang bisa ditimbulkan dari religious doubt itu sendiri dapat dijabarkan sebagai
berikut:
1. Berpandangan skeptis terhadap bentuk-bentuk
keagamaan.
2. Meninggalkan tugas-tugas keagamaan.
3. Konfrontasi pengetahuan dan agama
4. Religious conversion( perubahan sikap
keagamaan yang begitu mencolok).
B. Kasus
Kasus ini kami ambil dari
pengalaan keagamaan saya sendiri dimana pengalaman keagamaan masa kecil bisa dibilang
baik karena saya cukup beruntung terlahir dari keluarga yang pengetahuan
agamanya bisa dikatakan baik. Semenjak kecil
orang tua sudah menanamkan
nilai-nilai dasar kagamaan pada diri ini. Selain itu orang tua juga membekali
saya dengan pengetahuan keagamaan yang bisa digunakan dalam menjalani hidup
ini. Beliau juga sangat sabar dalam mendidik saya dan tidak pernah mengeluh.
Dan hal itu yang membuat saya sangat patuh dengan orang tua tentang apa yang di
ajarkan oleh mereka walaupun pada saat itu banyak juga ejekan-ejekan dari teman yang bilang
“jadi anak jangan sok alim”, namun berkat rasa kepercayaan yang sangat besar
kepada ajaran orang tua, saya tetap mematuhi perintahnya, dan jarang atau
bahkan tidak pernah melanggarnya
Cara mendidik orang tua tidak
hanya sampai di situ, dan demi menunjang pemahaman keagamaan yang lebih baik.
Semenjak masih duduk dibangku taman kanak-kanak orangtua sudah memasukkan saya
sudah dimasukkan TPA(taman pendidikan al-quran) yang bernama “baiturrahman”.
Pada awal pertama masuk ke TPA saya merasakan rasa takut yang luar biasa namun berkat dukungan dari
ortu dan bimbingan uztad-uztadnya yang baik-baik, lambat namun pasti saya bisa
berbaur dengan teman lain tanpa adanya rasa minder atau takut. Di TPA saya
mendapat banyak sekali mendapat nilai-nilai agama dan tentu saja mendapatkan
bimbingan dari para uztad tentang ilmu agama yang lain misalnya saja dalam
membaca al-quran dengan baik dan benar.
Hal diatas tersebut yang
membuat saya lebih bersemangat untuk menuntut ilmu yang lebih banyak lagi, dan
secara tidak langsung membuat saya rajin untuk berangkat mengaji. Bahkan hampir
setiap kali ada jadwal mengaji saya selalu berangkat dan mengikuti kegiatan di
TPA dengan baik. sehingga tidak mengherankan juga jika saya selalu dikirim
untuk mewakili tempat saya mengaji guna mengikuti lomba-lomba keagamaan di
berbagai tempat. Dan tidak jarang dari
kegiatan mengikuti lomba itu saya sering mendapatkan juara.
Tidak hanya
berprestasi di kegiatan tingkat TPA saja. Bahkan pada saat disekolah formalpun,
saya juga sering mendapat nilai yang baik dalam semua mata pelajaran terutama
pelajaran Pendidikan Agama Islam. Berkat nilai-nilai yang saya peroleh, maka
guru agamanyapun juga mengirim saya dalam berbagai perlombaan yang berhubungan
dengan keagamaan. Dan disitu saya juga sering mendapatkan juara. Bahkan bisa di
bilang saya menjadi anak yang paling disayang oleh para guru.
Setelah lulus SD dan tamat
dari TPA saya mulai diajari untuk menjadi guru dan membimbing adik-adik dalam
membaca al-quran. Dari situ banyak sekali pengalaman yang bisa diambil, bahwa
ternyata di dalam menyampaikan ilmu itu lebih sulit daripada ketika kita
memperolehnya. Dari dalam diri juga muncul perasaan tertantang untuk bisa
membibing mereka agar bisa menjadi seperti diri saya atau bahkan lebih baik
lagi. Dari itu semua di dalam hati nurani mulai mucul secerca keinginan atau
cita-cita menjadi seorang guru yang baik. Dengan didasari rasa tulus dalam
hati, saya semakin bersemangat untuk mendampingi adik-adik belajar mengaji. Hal
itu aku lakukan hingga lulus SMP.
Tetapi semenjak lulus dari
SMP dan masuk ke SMA atau ke dunia remaja. Di pikiranku sedikit demi sedikit
muncul rasa tidak nyaman dengan apa saja yang sudah dilakukan semenjak kecil
sampai sekarang ini. Perasaan itu selalu mencul di dalam benakku, bahkan saya
sendiri pernah juga melakukan sesuatu hal yang melanggar perintah agama
misalnya saja melakukan perbuatan yang sangat buruk dan pernah juga
meninggalakan shalat.
Namun berkat penanaman
agama yang telah begitu kuat dari orang tua dan bimbingan dari guru-guru TPA
serta saya sendiri juga berusaha keras menghilangkan pikiran-pikiran yang
seakan-akan sangat bertolak belakang dengan apa yang telah tertanam di dalam
hati. Dan pada akhirnya usaha-usaha yang telah saya lakukan lambat laun mulai
menunjukkan hasil yang nyata. Justru setelah terjadi konflik itu dapat membuat
hati saya semakin yakin dengan kepercayaan yang selama ini ku yakini.
C. Analisis kasus
Secara teoritik rasa agama
akan mulai bekerja jika seseorang telah memasuki masa remaja, namun jika hal
itu tidak dibarengi dengan usaha orang tua untuk menanamka nilai-nilai
keagamaan itu sejak dini. Maka hasil yang dapat diperoleh mustahil rasa agama
itu akan tertnam secara kuat pada diri setiap individu. Namun apabila penanaman
dan pendidikan tentang rasa agama dilakukan semenjak dini maka akan
menghasilkan suatu rasa keagamaan yang begitu kuat. Dan hal itu yang saya alami
sendiri denga mengamati kondisi lingkungan sekitar.
Didalam pengamatan yang
menggunakan kacamata saya sendiri bahwa seseoranag itu akan memiliki rasa agama
yangbegitu kuat jika sejak dini sudah dilakukan penanaman dan pendidikan rasa
agama. hala yang berkebalikan bisa terjadi yaitu rasa keagamaan akan databg
terlambatdan cendrung kurang sempurna apabila pada masa kecilnya kurang
mendapat pemahaman tentang agama.
Hal-hal yang mendasari
semangat saya pada masa penanaman rasa agama pada masa anak-anak yaitu
perhatian dari orang tua yang sangatlah besar pada masa itu. Hal itu secara
tidak langsung mendorong sya untuk lebih giat dalam mencari
pengetahuan-pengetahuan tentang agama. dan hal itu bisa dilihat pada kasus
diatas dimana saya lebih giat dalam mengaji dan melakukan segala perbuatan yang
baik-baik yang sudah tertulis didalam aturan agama.
Dari kasus yang saya angkat
diatas bahwa saya pernah mengalami masa-masa dimana didalam hati mulai muncul
suatu perasaan ragu-ragu tentang keyakinan yang dianut. Dan bisa saya amati
perasaan itu mulai muncul ketika pelajaran-pelajaran yang saya terima hanya
sesuatu hal yang bersifat abstrak dan kurang bisa diterima dengan akal sehat.
Itu juga diperparah dengan metode cara penyampaian yang dilakukan oleh orang
tua dan para guru cenderung tidak berubah dan menganggap siapa yang dihadapi
itu seolah-olah masih kecil. Hal itu sangat berolak belakang jika kita
hubungkan dengan psikologi dimana saat-saat remaja orang cenderung untuk
berfikir secara rasional bukan lagi berfikir secara abstrak.
Dari pengamatan yang saya
alami sendiri pada saat perasaan ragu-ragu itu muncul peranan dan perahatian
orang tua sudah sangat berkurang. Padahal pada saat itulah orang tua seharusnya
sangat memperhatikan kondisi psikologis anaknya. Atau bahkan selalu
mendampingi dalam hal bimbingan moral
keagamaannya. Karena pada saat remaja inilah masa paling rawan terhadap
perbuatan-perbuatan yang menyimpang.
Didalam bersosialisasi
dengan lingkunganpun juga pernah merasa berdosa karena didalam bermain
teman-teman sebaya banyak teman yang melakuakan suatu tindakan yang menurut
hati saya perbuatan itu dilarang dalam agama. namun namanya saja anak kecil
yang mempunyai sifat yang suka meniru maka saya juga melakukan hal tersebut
walaupun perbuatan itu bartentangan dengan hati saya.
Seperti telah dijelaskan
diatas banyak perbuatan menyimpang bahkan juga sampai menyentuh masalah moral.
Itu semua merupakan akibat yang harus diterima dari sebuah pendidikan rasa
agama yang kurang sesuai dengan perkembangan psikologis pada usia-usia remaja
awal. Sehingga akan memunculkan suatu keragu-raguan dalam diri, yang pada akhirnya
akan mendorong si remaja itu bertindak sesuka hatinya padahal apa yang
diyakininya belum tentu benar secara aturan agama.
Semakin bertambahnya usia
juga sedikit mempengaruhi pola pikir remaja menjadi lebih dewasa sehingga yang
pada awalnya memiliki keragu-raguan sudah mulai bisa untuk bisa lebih
menyesuaikan dengan keadaan yang baru. Dan mulai mencoba untuk berfikir
rasional terhadap hal-hal yang sebelumnya dianggap tabu. Dan itu adalah hal
yang dapat saya lakukan sehingga bisa keluar dari sifat keragu-raguan yang
menghinggapi di dalam benakku.
Dilihat dari sudut
pandang Psikologi perkembangan masa remaja awal merupakan masa-masa pencarian
jatidiri, dalam proses pencarian jati diri inipun juga masih perlu adanya
bimbingan dan arahan dari orang tua sehingga seorang individu dapat menemukan
hal-hal positive dalam dirinya bukan hal negative, seorang individu dapat
bersikap buruk dan jelek itu merupakan akibat dari pada proses pencarian jati
diri seorang anak dibiarkan bebas dan akhirnya menemukan orang-orang yang
berperilaku buruk, dan kaitanya dengan berjalanya rasa agama ketika seorang
anak dalam proses pencarian jatidiri mereka bertemu dengan orang-orang yang
tidak baik dan tidak bermoral maka otomatis rasa agama ini akan lenyap walaupun
sejak dari kecil sudah ditanamkan rasa agama oleh orang tua maupun sekolah.
Namun jika didalam masa
proses pencarian jati diri itu seorang itu mendapat pendampingan dan pengarahan
dari orang tua. Tentunya individu itu dapat menemukan banyak hal positif yang
tentunya akan membawa banyak manfaat juga di dalam menjalani hidup. Dan
tentunya rasa agama yang telah ditanamkan oleh orang tua dan lembaga pendidikan
akan bisa berjalan beriringan dengan segala tingkah lakunya.
Dalam proses perkembangan
atau bergeraknya rasa agama kondisi hubungan didalam keluarga juga sangat
berpengaruh. Itu bisa dilihat dari penggalaman yang saya alami dimana pada saat
keluarga dekat dan sangat memperhatikan kondisi psikologis keagamaan kita. Maka
seolah-olah itu bisa menjadi suatu penyemangat dalam diri kita untuk
menjalankan apa yang telah diperintahkan di dalam agama. Namun ketika kondisi
hubungan didalam keluarga ada jarak antara orang tua dan anak, hal ini bisa
saya rasakan dimana ketika mulai masuk usia remaja awal.diamana pada saat itu
dalam pikiran saya berkecamuk dan muncul suatu keragu-raguan dalam pandangan
tentang beragama. Pada saat itu kondisi seperti hubungan dengan orang tua kuang
mendalam lagi. Sehinngga tidak mengherankan juga pada masa itu pernah mengalami
sendiri banyak penyimpangan agama yang saya lakukan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari kasus ini penulis mencoba untuk
membuat suatu kesimpulan, dimana didalam proses penanaman rasa agama itu
dipengaruhi oleh beberapa faktor selain faktor proses internalisasi didalam
diri seseorang namun juga dipengaruhi faktor lain misalnya saja faktor dari
keluarga, lembaga pendidikan, dan kondisi lingkungan sosial masyarakatnya.
Didalam keluarga disini merupakan letak yang begitu penting karena pada masa
ini adalah untuk pertama kalinya seseorang mendapat penanaman dasar-dasar nilai
keagamaan. Bahkan tergantunhorang tua juga anak itu bisa menjadi seorang muslim
ataupun jadi orang kafir.
Selain keluarga, sekolah juga
memiliki tanggung jawab yang besar terhadap perkembangan perilaku keagamaannya.
Selain itu kondisi lingkungan sekitar juga akan sangat berpengaruh di dalam
proses perkebambangan rasa agama dalam dirinya. Misalnya saja kondisi teman
sepermainan, jika didalam kondisi yang baik maka akan lebih memudahkan didalam
perkembangan nilai agama. namun sebaliknya jika kondisi lingkungan kurang baik
itu tentu sauja juga akan sedikit menghambat didalam proses internalisasi
nilai-nilai keagamaan.
Remaja merupakan masa yang sangat
rentan terhadap kegoncangan hatinya dan sedikit banyaknya akan mempengaruhi
terhadap pandangannya mengenai agama yang selama ini diyakininya. Puncaknya
jika didalam kondisi keragu-raguan ini tidak bisa menemukan jawaban dari apa
yang membuat ragu-ragu. Maka remaja akan cenderung untuk melakukan hal-hal baru
dan memungkinkan remaja untuk bertindak menyimpang. Dan jika sudah dalam
kondisi seperti ini peran keluarga sangat diperlukan untuk mengembalikan
pikiran-pikiran ke arah yang benar selain motivasi dari individunya sendiri.
B. Kritik Dan Saran
Didalam peulisan makalah penelitian
ini tentunya masih banyak sekali kesalahan maupun kekurangannya. Maka dari itu
di dalam kritik dan saran ini penulis mengharapkan masukan yang membangun dari
pembaca sekalian. Agar kelak pada penulisan makalah yang selanjutnya bisa
memperbaiki kekurangan dan bisa menghasilkan suatu akrya yang lebih baik.
Daftar pustaka
Darajat,Zakiah. 1970.Ilmu
Jiwa Agama. Jakarta.Bulan Bintang.
Jalaludin, H. 2002. Psikologi
Agama. Jakarta.Raja Grafindo Persada.
Susilaningsih.1996. Makalah
Dinamika Perkembangan Rasa Keagamaan Pada Usia Remaja.
Susilaningsih.1994. Perkembangan
Religiositas Pada Usia Anak.
Thoules, Robert H.1992.Pengantar Psikologi Agama.Jakarta.Rajawali
[1] Susilaningsih,makalah Dinamika Perkembangan Rasa
keagamaan Pada Usia Remaja, hlm. 1
[2] Susilaningsih. Handout pembelajaran psikologi
agama pertemuan ke-10
[3] Susilaningsih.Makalah perkembangan religiusitas
pada anak, hlm.8
[4] Zakiah Darajat.
Ilmu Djiwa Agama. 1972. Djakarta: Bulan Bintang.halm. 116
[5] Ibid. Hlm. 115
[6] Ibid. Hlm. 115
yg dr jalaluddin jg dong ^^'
BalasHapusHarrah's Resort Southern California - Mapyro
BalasHapusHarrah's Resort 광명 출장마사지 Southern California · Main Location: Valley Center. Map 춘천 출장안마 icon. Location: 경기도 출장마사지 Valley Center, California. The casino 이천 출장안마 is owned and operated by 제주도 출장안마
Making Money - Work/Tennis: The Ultimate Guide
BalasHapusThe way you titanium earrings would expect from betting on the tennis matches septcasino of tennis is to bet on the player you like w88 most. But งานออนไลน์ you also need a 해축 보는 곳 different